Pendekaran Pembelajaran

Mewujudkan Generasi Jazarian Abad 21

Untuk melahirkan Generasi Jazarian, kami menerapkan kurikulum terintegrasi yang dirancang secara sadar dan sistemik. Kurikulum ini tidak berhenti pada penguasaan materi, tetapi membentuk cara berpikir, cara belajar, dan cara beradaptasi di tengah perubahan yang cepat. Peserta didik dibimbing untuk memahami proses belajar itu sendiri bagaimana mencari pengetahuan, menguji informasi, menyusun nalar, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab sehingga mereka tidak sekadar menjadi penghafal, tetapi pembelajar mandiri yang tangguh menghadapi era disrupsi.

Landasan Iman : Menumbuh kembangkan Adab dan Amal Saleh

Seluruh kegiatan di sekolah, termasuk di asrama (Boarding School), dirancang sebagai laboratorium hidup untuk Menumbuhkembangkan Adab Islam dan Melatihkan Amal Saleh. Konsistensi dalam ibadah, disiplin waktu, kemandirian, dan interaksi yang beretika menjadi kurikulum sehari-hari yang membentuk karakter sejati seorang muslim.

Persahabatan Erat dengan Al-Qur’an

Persahabatan ini dibangun melalui Pembelajaran Al-Qur’an yang masing-masing memiliki turunan ilmu syariat yang harus dikuasai oleh siswa. Pembelajaran Al-Qur’an adalah pembelajaran bersanad yang dibimbing langsung oleh Para Syaikh Al-Azhar Asy-Syarif Mesir.
  1. Tilawah dan Hifzh (Membaca dan Menghafal): Siswa menguasai teknis dan kualitas interaksi langsung siswa dengan Al-Qur’an; Ilmu Tajwid mempelajari kaidah pengucapan huruf (makharijul huruf) dan sifat-sifatnya, Ilmu Hafalan mempelajari dan melatihkan penghafalan, muroja’ah (pengulangan), dan menjaga hafalan, serta Adab Al-Qur’an mempelajari etika sebelum, saat, dan setelah membaca/menghafal Al-Qur’an.
  2. Tafhim (Pemahaman dan Analisis): Siswa tidak hanya membaca dan menghafal, tetapi juga memahami makna dan konteks ayat-ayat Al-Qur’an; Gharibul Qur’an dan Mufradat mempelajari kata-kata yang asing dan dasar-dasar bahasa Arab (Nahwu/Sharaf) yang esensial, Ilmu Tafsir (Dasar) memahami tema-tema utama dalam surah dan ayat-ayat kunci (misalnya, ayat-ayat tentang fenomena sains, etika, dan hukum), serta Ilmu Fiqh (Dasar) mempelajari hukum-hukum praktis (ibadah, muamalah dasar) yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits.
  3. Tathbiq dan I’mal (Aplikasi dan Pengamalan): puncak dari pembelajaran, yaitu bagaimana ilmu dan Al-Qur’an diterjemahkan menjadi karakter dan aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari, sejalan dengan moto “Sains dan Teknologi Dikuasai”. Ilmu Hadits & Sirah: Mempelajari praktik Rasulullah SAW sebagai teladan sempurna (uswatun hasanah) dalam berinteraksi sosial dan memimpin.

Keterampilan Abad 21: Fokus pada 4C

Proses Pembelajaran Abad 21 di Isykariman secara intensif memperhatikan empat keterampilan utama (4C) :
  1. Communication (Komunikasi) : Kemampuan menyampaikan ide secara lisan dan tulisan dengan efektif.
  2. Collaboration (Kolaborasi) : Kemampuan bekerja dalam tim yang beragam untuk mencapai tujuan bersama.
  3. Critical Thinking (Berpikir Kritis) : Kemampuan menganalisis informasi, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan yang logis.
  4. Creativity (Kreativitas) : Kemampuan berinovasi dan menghasilkan ide-ide baru yang orisinal.

Pembelajaran Berorientasi Karya dan Solusi Nyata

Kami menjauhi pembelajaran pasif. Kami menerapkan Pembelajaran Berorientasi Karya Ilmiah yang terintegrasi dengan peradaban Islam (hadharah dan madaniyah Islamiyah) dimana siswa dilatih untuk melakukan penelitian, menganalisis data, dan menyajikan temuan layaknya seorang ilmuwan sejati, mengasah kemampuan berpikir kritis dan sistematis.
  1. Pembelajaran Pencarian/Inkuiri (Inquiry-Based Learning): Siswa didorong untuk mengajukan pertanyaan, melakukan observasi, dan mencari jawaban mereka sendiri, bukan hanya menerima informasi. Metode ini melatih rasa ingin tahu ilmiah, kemampuan merumuskan hipotesis, dan semangat penemuan.
  2. Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning): Siswa didorong untuk mengorganisir, menganalisis, dan menemukan konsep, prinsip, atau solusi sendiri melalui eksplorasi aktif, eksperimen, dan interaksi dengan materi. Guru berperan sebagai fasilitator yang menyediakan sumber daya, panduan, dan masalah yang relevan.
  3. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Learning – PBM) : Siswa ditantang untuk mengidentifikasi pengetahuan yang mereka butuhkan untuk memecahkan masalah dengan kemampuan analisis yang tajam, mendukung Pembelajaran Berorientasi Karya Ilmiah.
  4. Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning – PjBL): Siswa mengerjakan proyek-proyek jangka panjang yang membutuhkan integrasi pengetahuan dari berbagai mata pelajaran (interdisipliner). PjBL ini menghasilkan Karya Ilmiah dan produk nyata, seperti merancang aplikasi untuk manajemen waktu ibadah (menggabungkan Fiqh, Coding, dan Desain), atau membangun maket energi terbarukan (menggabungkan sains, matematika, dan etika lingkungan Islam), dll.
  5. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning – CTL): Pembelajaran selalu dihubungkan dengan situasi nyata kehidupan siswa sehari-hari dan realitas masyarakat.
Melalui pendekatan ini, ilmu pengetahuan tidak lagi hanya berupa hafalan, tetapi menjelma menjadi alat yang kuat untuk beramal saleh dan memberikan manfaat bagi masyarakat.